First Day

February 24th, 2007 by dhanysaputra

Sorry, maklum ditulis pas tanggal-tanggal segitu, jadi masih ndeso, masih heran liat hal-hal baru, hihihi ….

========================

SELASA, 5 DESEMBER 2006

Hari selasa aku berangkat ke office agak siangan, di office ketemu Barkah, eeh, ternyata Barkah juga berangkat ke KL. Dia bilang juga, registrasi bisa dilakukan setiba di sana. Weleh-weleh, semakin bingung aja, ikut atau nggak, soalnya kemarin malem aku dah mutusin ga ikut ke KL, cuman ikut ke Genting dan ke kawinannya Shuhaila, temen PG Office, bareng pak erman. Setelah aku daftar di ruangan depan PG office, katanya bisa, tapi masalah travel urus sendiri. Setelah itu aku recheck ke PG Office, katanya Puan Kamaliah no problem with the travel as long as I have registered to the seminar. Ya udah, akhirnya aku segera balik ke office, menghentikan aktifitasku di cubical, karena saat itu udah pukul 3:30, padahal bus berangkat pukul 4:30. Aku langsung packing dalam waktu yang sangat singkat untuk perjalanan 5 hari kedepan. Dapet kabar, sebagian berangkat seminar, sisanya nyusul yg waktu ke genting, dan sisanya lagi ikut ke kawinan si Shu. Jadi semuanya bakalan dateng lengkap ke kawinan Shu.

Setelah packing yang serba mendadak itu, pukul 4:25 turunlah aku ke v4 lantai 2, tempat anak2 yang lain. Gw sholat cepet2an di kamar Ojan, kemudian kita berangkat bareng2 ke tempat bus UTP. Bus berangkat pukul 5 lebih, dan ternyata yang di dalem nggak cuman yg mau pergi seminar, tapi juga ada anak2 undergrad dari Kamboja dan Vietnam yang mau mudik, nunut ke KL, mumpung naik fasilitas bus UTP gratis. Eeeh, setelah sekitar 3 jam atau 3.5 jam kita diturunin di Ampang. Trus semua pada turun, anak2 undergrad pada turun, bawa2 PC mereka, mau dibawa mudik kali ya ..

Blog1
Setelah turun, kita segera ke loket LRT (Light Rail Transit), sejenis kereta ekspress ber-AC yang jalannya di bawah tanah. Kita menuju loket pembelian tiketnya, seharga RM 1.2 untuk pergi ke jurusan Pasar Seni. Trus setelah kita beli, kita harus lewat mesin Touch n Go, untuk bisa masuk ke peron. Tiket magnetic tadi kita masukkan slotnya, trus disedot sama mesin itu (kaya masukkan card ke ATM) trus kita ambil tiketnya di slot di depannya (kaya ambil card ATM), baru kita bisa melewati peron. Setelah masuk, kita menuju ke lantai tempat menunggu LRT lewat. Tempatnya mirip stasiun kereta api setelah kita masuk peron, tapi ga ada kursi, semua orang berdiri di depan pintu-pintu kaca. Pintu kaca terbuka setelah LRT tiba di peron. Setelah pintu dibuka, kita cepat-cepat masuk kereta, biar dapet tempat duduk. Kalo ga dapet tempat duduk, harus berdiri sambil pegangan gantungan-gantungan yang disediakan. Untungnya aku dapet tempat duduk, jadi masih bisa melepas lelah sambil melihat pemandangan di luar yang tidak indah, soalnya di luar kebanyakan cuman ngeliat dinding terowongan aja. Duduknya saling berhadapan seperti angkot gitu. Yah, aku berpikir, seandainya saja kota-kota besar di pulau Jawa (Jakarta, Surabaya) dibuat sistem LRT pasti lebih enak. Jelas-jelas mengurangi kemacetan. Jelas-jelas orang akan lebih memilih ke kantor naik LRT daripada bermacet-macet ria di luar sana naik mobil atau bus atau jalan kaki atau kendaraan apapun, kalo siang nggak panas (soalnya AC-nya dingin), dan yang jelas : jauh lebih cepat sampai tujuan. Setiap 1 menitan pasti ada pengumuman "stesyen berikuknye, dang wangi. The next station, dang wangi". Jalur yg kita lewati dari Ampang Park - KLCC - Kampong Baru - Dang Wangi - Masjid Jamek - Pasar Seni. Bener juga, mungkin kurang dari 10 menit ternyata dah sampe ke stasiun Pasar Seni.

Setelah keluar dari LRT segera kita cari mesin Touch n Go untuk keluar. Mesin Touch n Go waktu keluar beda dengan waktu berangkat, soalnya kalo kita masukin card di mesin ini, nggak akan keluar lagi card-nya, melainkan langsung ditelan sama mesin, kita bisa lewat, then keluar dari stesyen. Kita turun, menuju ke Ptaling Jaya, sebuah China Town yang sangat terkenal di KL, ga jauh dari stesyen Pasar Seni. Wihh, di kanan kiri banyak orang China jualan macem-macem, dengan harga yang bervariasi. Memang ini tempatnya orang2 beli barang2 murah dan beli suvenir.

Tapi kita terus aja, sampai menuju yang namanya Hotel Tang City, di salah satu sudut pasar Ptaling. Letaknya di sebelah toko VCD-DVD dan 7 Eleven. Kita langsung masuk ke dalam, ke lantai 1, setelah booking etcetera di receptionist akhirnya dapet kamar masing-masing. Aku sekamar ama Amang dan Iqbal. Anto sekamar ama Barkah dan Ginting. Roil sekamar ama Ojan dan Zulfan, Zeeshan sekamar ama Syehzad, dan Ari sekamar ama Nisa. Kita cek satu-satu kamarnya, meskipun agak mini tapi memuaskan … mandi air panas shower, ada TV, dan ber-AC. Udah, kalo aku sih yang penting itu aja udah aku anggap definisi hotel yang bagus. Iqbal dan Amang langsung mapan ke tempat tidur sambil menyalakan TV gantung, sedangkan aku langsung mandiiii, hihihi … soalnya mau berangkat tadi ga sempet mandi, biar sholatnya lebih afdolll. Abis mandi, jalan2 ke 7-Eleven di sebelah hotel, buat beli macem2. Ada yg beli odol soalnya lupa ga bawa, ada yg beli air minum botol soalnya ga disediain hotel, tapi aku cuman beli Pepsi Tarik dan minuman hijau aneh gitu, tapi ternyata minuman itu sari Buah Kundur alias Winter Melon.

Blog2

Blog3

Trus kita jalan-jalan ke daerah deket puduraya, trus makan di boulevard
cafe beratapkan langit, seperti yg di jalan darmawangsa klo di
surabaya. Menunya lumayan aneh mungkin bagi orang yang baru datang.
Temen-temen pada makan tomyam, soalnya aku paling males klo makan
tomyam di makcik. Aku makan roti bakar berperasa kaya (surya bilang
roti bakar berperasaan). Minumnya minuman buah epal. Setelah puas
menikmati night over puduraya, mapan tidur deh … Biar besoknya bisa
bangun pagi.



 

LAMA TAK JUMPA

February 24th, 2007 by dhanysaputra

Hallo Blog ku tersayaaang ….

Lama tak jumpa …. setelah posting terakhir, aku disibukkan oleh simposium (damn!!),dua paper submission berturut-turut, eksperimen, tutorial-tutorial menumpuk di awal semester, dan banyaknya liburan ke mana-mana, jadi ga sempat-sempat ngeblog lagi. Sekarang udah agak longgaran dikit, aku mau nerusin lagi deh ngeblognya. Kali ini aku mau ngerilis blogku pas seminar ke KLCC, Petronas Twin Tower. Udah aku simpen sejak waktu itu tapi aku cari-cari lagi ga nemu (ketlisut), tapi akhirnya ketemu juga.

IT ONLY REMINDS ME OF YOU

January 19th, 2007 by dhanysaputra

Artist : Rick Price
Album : Various Songs

I see you beside me
It’s only a dream
A vision of what used to be

The laughter, the sorrow
Pictures in time
Fading to memory

How could I ever let you go
Isn’t too late to let you know

I tried to run from your side
But each place I hide
It only reminds me of you

When i turn out of the light
Even the night
It only reminds me of you
You …

I needed my freedom
That’s what I’ve thought
But I was a fool to believe

My heart cried while you cried
Rivers of tears
But I was too blind to see

Everything we’ve been through before
Now it means so much more then

I try to run from your side
But each place I hide
It only reminds me of you

When i turn out of the light
Even the night
It only reminds me of you

Only you…

So come back to me
I’m down on my knees
Oh can’t you see …

How could I ever let you go
Is it too late to let you know

That I try to run from your side

But each place I hide

It only reminds me of you

When i turn out of the light

Even the night

It only reminds me of you
You …
Only reminds me of you …

SATU LAGI

January 13th, 2007 by dhanysaputra

Cipt : Ricky Johannes
Arranged and Performed by : EMERALD (Ricky Jo, Iwang Noorsaid, Cendi Luntungan, Roedyanto, Morgan Sigarlaki

Pertama kujumpa, pertama kusapa
Kau tersenyum saat itu
Manisnya senyummu, lembutnya dirimu
Seakan tiada cela

Baru kini kutemui yang kurindu
Semua yang ada di dirimu
Lugu wajahmu oh anggunnya kamu
Kudamba s’lalu kau kudamba

Ada yang kutahu, ada yang kurasa
Satu hal yang tak biasa
Ada rasa rindu, ada rasa cinta
Menyatu di dalam hati

Tak akan kulupakan dirimu kasih
Kudambakan cintamu
Satu lagi yang takkan mungkin kulupa
Lembutnya tatapan matamu

Kasih, kutahu cintamu untukku
Kau kurindu, kau kucinta
Satu lagi kasih …
KUSAYANG KAMU

RESEP TAHU ISI ala gw

December 24th, 2006 by dhanysaputra

Sori, adanya di kolkas cuman wortel dan daun bawang.

Ingredients:

10 biji tahu 3 cm x 3 cm digoreng dulu sampai kuning
wortel satu tongkol, dikerok, diiris kotak-kotak superkecil
daun bawang satu bongkol, dibersihkan diiris superkecil
bawang merah 3 siung, bawang putih 2 siung
tepung gandum
garam, minyak goreng

Cara memasak:

1. Tumis dulu ulegan bawang merah dan putih dengan memakai minyak goreng sedikit (setara dengan blue band satu setengah sendok makan), sampai harum, sambil dicampur merica dan sedikit garam. Tumis dengan api gede, sampe minyaknya habis. (Sori, berhubung di Malaysia ga ada uleg-uleg, dan yang dibawa dari Indonesia pun lagi dipake di guest house, blender pun tak ada, jadi cukup diiris sekecil mungkin sambil dipukul-pukul pakai sendok :) ).

2. Bikin adonan tepung gandum plus garam, merica, dengan ukuran yang proporsional.

3. Lubangi masing-masing tahu sampai membentuk kantong, koyak isinya, masukkan hasil tumisan.

4. Olesi kulit tahu dengan adonan tepung gandum tadi, goreng sampai berwarna kuning coklat di semua sisi.

5. Tahu isi comel siap disajikan.

Pelajaran yang diambil dari memasak kali ini :

Proporsi garam harus diatur, uleg-uleg harus disiapkan dulu sebelum memasak, dan adonan/tumisan harus memakai GULA, untuk mengimbangi merica dan garam!!!

RINTANGAN

December 24th, 2006 by dhanysaputra

Song/Words : Chandra Darusman
Performed by : Karimata feat Dian Pramana Poetra & Lidya Norsaid
Album : Karimata Lima
Formasi Karimata : Erwin Gutawa, Uce Haryono, Aminoto Kosin, Chandra Darusman, Denny TR

Kemesraan yang memikat hati
Terwujud nyata di balik senyummu
Bercinta adalah suatu yang sangat indah
Kasihmu padaku takkan terlupa

Reff :
Berdua kita telah menjalin cerita
Sepanjang waktu yang berjalan
Bersama kita telah mencoba menatap
Kehidupan dua manusia … berpisah kini

Ooh mengapa cinta suci ini
Harus terhenti meski s’makin dalam
Keyakinan dan keimananmu itu
Jadi rintangan walau Tuhan satu

Back to Reff, Melody, Reff

Bridge:
Hanya impian … takkan terjadi
Maafkan aku … tetap kudamba
Mengapa seolah Tuhan memisahkan kita

CINTA YANG TERAKHIR

November 13th, 2006 by dhanysaputra

Song/Words : Dhany Saputra

Akhirnya kutemukan juga
Kekasih pendamping hidupku
Kau s’lalu warnai hidupku
Dalam suka ataupun duka

Kubertanya pada diri
Apakah kau juga cinta padaku

Reff:
Kali ini aku jatuh cinta
Set’lah sekian lama tak pernah jatuh cinta lagi
Kali ini akupun percaya
Kaulah … cinta yang terakhir

Kaulah … cinta yang terakhir

PULANG KAMPUNG

October 20th, 2006 by dhanysaputra

Tempo lalu, adalah pengalaman pulang kampung teraneh yang pernah aku alami. Aku harus balik pagi-pagi buta, sementara kerjaan marking dan rekap absensi matakuliah SAD masih belum juga selesai sampai jam 12 malam. Tapi akhirnya dengan SKS (sistem kebut semalam) selesai juga jam 2 am. Pakcik guard sudah mulai rese nanyain kapan balik hostel. Ya udah, aku pulang aja lah. Jam 3 aku pulang, taruh tas dulu ke kamar. Aku liat pada belum bangun, aku langsung aja turun ke Kantin Ali v4. Eh, ternyata udah tutup kantinnya, tapi katanya si Ali, bisa lewat jalur belakang, eeeh ternyata makanan di belakang masih banyak, cuman rebutan ama tukang masaknya Ali aja. Ga masalah. Rencananya mau makan dulu di v5, di tempatnya pak eko sama pak dani. Eeh, ternyata di tengah jalan gw dicegat murid cewek dari Iran, teriak "sir, sir …", murid gw SAD, katanya mau nanya2 masalah tugas project buat SAD, masalah User Requirement Analysis. Aku janjiin aku bakalan ketemu mereka di kantin v3 setelah aku selesai sahur. Trus aku berangkat ke v5, ketemu pak eko lagi ngangetin nasi dan lauknya di rice cooker, juga ketemu mas irfan yang mau selesai sahur dan mas budi agung lagi persiapan masak. Ternyata pak balza terbangun denger ngobrol2ku dengan pak eko. Rame juga ternyata sahur di v5.

Setelah selesai sahur, aku dateng ke kantin v3, ketemu sama anak2 SAD. Insya Allah klo seputar penanganan proyek sih masih bisa digacor. Eh, ternyata bener, pertanyaannya cuman seputar bagaimana cara melaporkan hasil interview dengan user, trus gimana menentukan angka function
point (yang dalam kenyataannya project manager harus mengira2 sendiri angkanya). Yah, something about that lah. Aku cerita2 dikit, berbagi ilmu dengan mereka. Bahwa system analysis and design berawal dari nego dan user requirement, berakhir dengan UML Diagram. Aku pake pendekatan jumlah form yang dibangun dalam aplikasi, biar mudah mereka membayangkan. Setelah jam 5:25, mendekati waktu imsak (sekitar 5:45), aku balik ke kamar.

Then, aku balik ke kamar, seperti biasa, dengan makanan yang udah habis, ga tega mau minta. Lalu aku siap2 masukin barang2 ke dalam 2 tas kecilku. Hehehe, mutusin ga bawa koper deh, bikin berat aja. Trus nantinya bakalan jadi masalah waktu di bungur lah, dengan copet2 bungur, dengan tukang angkut yang maksa banget juga. Setelah itu aku ke kamar Amang dan Mas Wawan untuk mohon bantuan ke beliau berdua (hiii … tengkyu banget mas wawan, amang, dan mas anto yang ikut ke medan bercham). Sekitar jam 6:40-an, aku segera ke tempat mas wawan, soalnya udah dimiscalli (hii, ampun mas wawan). Trus dianterin mas wawan dan mas anto pake mobilnya mas wawan dan amang. Selama perjalanan, mata ini berat banget, isinya cuman tidur, mungkin karena  semalam ngebut key in satu gebok marking dan absensi. Begitu sampe di medan bercham sekitar jam 8 kurang dikit, bus yoyo nampak udah mau berangkat, aku ngucapin muuuakasih banyak ke mas-mas yang udah baik banget itu. Trus jadi keinget, khan kemarin aku booking jam 10 tapi belum bayar (thanks to nani yang mau bantuin booking jam 10 via phone, soalnya bahasa melayuku masih jelek), tapi apa mereka ngijinin aku berangkat jam 8? Aku bilang ke supir, bisa ikut ga, trus supir bilang, 45 ringgit, udah aku bayar aja, disuruh duduk di kursi depan. Ga tau, kayanya duitnya masuk kantong supirnya deh. Eh, jadi teringat waktu aku jadi penumpang gelap habis UMPTN mau pulang dari bandung ke surabaya dulu, waktu mau hari terakhir pendaftaran masuk SI, hihihi..

Tapi aku cuek aja, yang penting bisa pulang, harganya sama aja, terserah mau dikorupsi atau enggak. Wih, begitu masuk bis, lha kok TV bis-nya lagi nyetel fashion show wanita2 pake bikini… hiiih, asiiik ehm … astaghfirulloh … trus aku liat di belakang aku, ternyata cuman aku yang bukan chinese. Semua orang di bis ini, termasuk supirnya, chinese. Aku diajak ngomong sama penumpang lain, ngomong bahasa mandarin, syang syong wucheng chong … halah mbuh, aku balez "sorry, ay tak bler cakap mandarin". Hiii, akhirnya orang itu adalah orang kedua yang mengira aku orang chinese, setelah abdul jalil. Secara emang bener gw ini masih keliatan ada chinanya gitu loh. Huahaha… Trus setiap penumpang dikasih aqua botol tanggung (eh, tapi mereknya bukan aqua deh, lupa namanya apa), dua botol pula (yg satu jatahnya si driver. Mungkin karena si supir merasa korupsi duit, hihihi, ga enak sama aku, akunya dikasih). Tapi tenang, botol aquanya masih aman sampai sekarang 2 botol belum dibuka. Di perjalanan isinya cuman tidur tok. Soalnya semalam ga tidur. Pemandangan jalan-jalan di malaysia membosankan, ga ada pengamen, ga ada rampok, ga ada asongan, ga macet, jalannya lempeng-lempeng aja. TV-nya awalnya menayangkan pertunjukan tari merak dari cina, wihh, keren abis deh pokoknya. Ceweknya yg di video cakep punya lagi. Trus juga disetelin film humor china. Pokoknya yg ngabodor abis deh. Ada seorang cewek naik sepeda ontel ditabrak mobil polisi, yg parah malah mobilnya, sepedanya ga apa2, trus korban penumpang mobil yg harusnya teriak2 kesakitan, malah ada yang kayak korban kelaparan, ada yang kayak habis mabuk-mabukan, dll. Trus anehnya, tiba2 si cewek ditawarin masuk kepolisian, si cewek ngasih syarat gaji minimum, trus para polisi menyanyikan mars kepolisiannya, yang salah satu isi liriknya mengandung kata-kata minimum salary. Huaahaha, ada2 aja. Trus penjahatnya juga peragawati wannabe. Waktu dikepung polisi, ya tinggal dipancing sama liputan TV live, biar mau keluar. Lha kok malah keluar dan menyerah dengan damai, sambil jalan ala peragawati, karena pengen masuk TV… film teraneh…

Then, pukul 12.30 udah nyampek LCC. Langsung turun aja aku, eh, di situ ada McD tempat aku dulu diselamatkan oleh Encik Fadil. Tapi khan itu tempat ketibaan domestik alias domestic arrival. Itu bukan tempatnya. Trus aku masuk aja ke dalem, gampang banget kok nyari tempat pemberangkatan. Tapi berhubung kaunter Air Asia yg ke Sby masih lama bukanya, aku keliling2, cuci mata, hehehe, ternyata pemandangan di bandara lebih beragam daripada di kampus. Tergoda juga beliin adik permen lolipop ukuran guuuede banget, khas chinese malaysia, di indonesia ga ada de prasaan. Setelah puas cuci mata sholat jamak qoshor dhuhur (yg harusnya jumatan) dan ashar, aku liat jam udah pk. 2.15, aku langsung antri di counter 5, eeeh ternyata antrian udah sangat panjang. Dan isi antriannya, hampir seratus persen TKI yang pulang kampung. Lhaa … naik pesawat serasa mau naik kereta ekonomi mudik gratis… hahaha, ga papa deh. Antrian selama setengah jam lebih, biasaaa … antrian orang indonesia, yang pada mau balik kampung dengan bawa bermacam2 oleh2 seperti DVD player, TV, dll. Woo, tapi jangan salah dan jangan underestimate, para bapak-ibu TKI itu bisa pulang dengan uang berlimpah bow, bahkan jauh lebih berlimpah ketimbang orang2 yang cuman jadi programmer software house full time dengan standar gaji surabaya. Waktu di pesawat, isinya para pembantu yang mengejar ringgit di malaysia. Tapi (terutama para Bibiknya) pake dandanan super menor, pakaian super mewah, stocking, rambut dicat, hiih. Aku pilih tempat duduk paling belakang aja, yang waktu itu masih kosong. Aku sengaja duduk di sisi paling dekat dengan koridor, biar ga ada pembantu resek berpakaian sok mewah dan berdandan menor yang duduk di deket aku. Trus ada seorang bapak-ibu TKI yang udah cukup berumur (di atas 50 tahunan lah), langsung aku ijinin masuk. Khan kalo yg ini beda sama pembantu2 kebanyakan gaya itu. Sepasang bapak ibu ini masih menjaga kesederhanaan penampilan dan sikapnya, tidak seperti para Surti-Tejo yang dandanannya berubah semenjak keluar negeri itu. Bapak ini tadi yang mau beliin DVD Player buat keluarganya dan anak-anaknya. Dari sakunya juga keluar kamera digital, yg kalo menurut aku harganya mahal, soalnya pixelnya boleh juga. Hiii, aku aja kalah, belum bisa beli kamera digital pake duit sendiri. Tapi ya gitu, yg dicapture sama bapak-bapak tadi adalah pramugara dan pramugari yang riwa-riwi menawarkan barang jualan, dan yang melayani para penumpang. Emang terlihat kok dari tampang2 encik pramugara dan cik pramugarinya bahwa mereka meng-underestimate para penumpang air asia ke surabaya, karena penumpangnya pasti TKI. Dan kejadian aneh lainnya yg terjadi di pesawat adalah fenomena banyaknya TKI pulang yang beli makanan mahal-mahal di pesawat. Ada yang beli nasi lemak, beli mi instan (satu cup seharga sekitar lima belas ribuan rupiah, whikkk). Banyak orang yang tiba2 menjadi kaya atau sok kaya gituh.

Kemudian gak lama, aku kenalan sama ibuk dan bapak di sebelahku. Namanya bu sulimah dan pak hanafi, kalo ga salah. Hehe, mereka sendiri bertemu bukan karena suami istri, tapi karena pak hanafi liat bu sulimah kasian ga tau jalan mau pulang waktu di bandara tadi. Eeeh, sekitar dua jam perjalanan nggak kerasa (soalnya tidur… hihihi) tiba2 udah diumumin berbuka. Weihh, orang2 pada mulai menyantap makanan mahal mereka. Hehehe, jujur, ga pernah aku liat pramugara dan  pramugari sesibuk itu melayani sebanyak itu orang2 yang mau beli makanan mahal. Nah, bapak dan ibu ini nggak ikut2an beli. Mereka berbagi ke aku dan kursi2 di deketku, permen pedes dan sedikit jajan kuping gajah, asal buat membatalkan puasa aja. Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di juanda. Puhhh, sesampai di sana, antrian panjang menunggu di imigrasi. Dan di sana paspor dan tetek bengek kita dicap. Dan di tempat aku ngantri ternyata tulisan loketnya "khusus TKI". Aku cari yang bukan TKI ga ada. Eeeh, ternyata emang cuman dua loket yang buka. Terus aku janjian sama kedua bapak dan ibu itu, sambil cari temen lah pikirku, bantuin nungguin mereka ambil koper dan oleh2 buat keluarganya. Maunya naik Damri, tapi ternyata Damri hanya sampe jam 5 saja. Weeh, terpaksa naik taksi ke Bungur, patungan sama bapak dan ibu itu. Walah, si bapak dan si ibu di tengah jalan ditodong para calo pengantar dan tawaran taksi ilegal kayaknya hampir terpengaruh, trus aku ajarin klo ada gitu, cuekin aja. Aku pesen tiket taksi, si mbak counternya bilang 42. Otomatis aku keluarin dari dompet 50 ringgit. Eeeh, ternyata aku lupa bahwa aku udah di indonesia. Dengan malu2 aku keluarkan satu-satunya lembaran (karena ga punya uang receh) uang indonesia, yaitu uang 50 ribu, lalu di dalam taksi si ibu dan bapak kasih saya 30 ribu buat patungan, sisanya aku pake buat ongkos pulang. Alhamdulillah, meski agak nggak enak gitu. Wong aku sendiri juga lagi cuman bawa 50 ribu rupiah doang, sisanya uang ringgit. Sesudah itu, kami menaikkan semua bawaan ke bagasi belakang. Pwuhh… akhirnya kami naik taksi ke bungur, si bapak duduk depan, aku duduk sama si ibu di belakang. Mereka aku tanyain seputar kerjaan mereka di sana. Ternyata… sama seperti TKI yang lain, merasa merasa ga betah karena perlakuan majikannya. Sesampainya di bungur, sekitar sepuluh orang bertampang seram dan preman sudah langsung membuka bagasi taksi (sepertinya supir taksi dan mereka sudah saling berkomplot), untuk mengambil semua barang di bagasi. Lha??!? Aku langsung kaget. Langsung keluar, aku ambil tas aku. Aku selamatkan dulu tas aku. Si preman-preman itu ternyata kuli angkut. Salah satu preman seperti ga mau melepaskan tasku. Untung tasku satunya aku cangklong. Waduh, mau ngrampok nih orang. Aku tinggiin dikit nadaku, "Dhukno pak!! Aku iso ngangkat dhewe." (terjemahan bebas : Turunkan pak, saya bisa angkat sendiri). Mereka masih memegang erat tasku, trus aku rebut tasnya sekuat tenaga, hampir tasku robek, dan aku teriaki kupingnya dengan nada yang sudah sangat meninggi, berteriak keras, dan sangat emosi, "DHUKNO TASKU!!!". Akhirnya aku bisa merebut tasku dari kuli angkut setengah rampok itu. Aku lihat ibu sulimah masih bersikukuh dengan si kuli angkut, sedangkan si bapak sepertinya sudah menyerah saja diambil kuli angkut. Si ibu sudah hampir menyerah dan siap bayar berapapun karena waktu ngangkat kelihatan ga kuat, langsung diambil sama kuli angkut itu dengan paksa sambil bilang "lho kan rakuat, wisto, tak angkatno ae" (terjemahan: tuh kan ga kuat, udah, aku angkatin aja), langsung aku sikat tas yang diambil kuli angkut sialan itu, "Wess kene!!! Tak angkate" (terjemahan : udah sini, aku angkatnya). Aku paksain angkat tas si ibu itu meski berat. Terus waktu di tempat ngasih karcis peron, aku mau beli karcis peron, kok sama para kuli angkutnya aku dilarang beli karcis peron. Berhubung si bapak udah bayar uang pungli itu ke bapak penjaga karcis peron (yang sepertinya komplotan juga, wong melarang saya beli karcis juga kok), dengan dikelilingi rampok-rampok itu, lagipula aku juga bawa barang2 berat, udah pasrah aja aku. Wong yg bayar bapaknya. Untung satu tas si ibu serta dua tas aku udah aku selamatkan. Begitu sampe deket bis, para kuli angkut itu langsung malaki kita dengan uang lima puluh ribuan. Tapi sepertinya si bapak menyerah juga, meski sambil mulutnya meracau nggak karuan, ngomel2. Aku dan kedua bapak ibu TKI itu berpisah di tempat menunggu. Alah, tulisan jawapos beberapa bulan yang lalu tentang calo bis itu ternyata ga ada apa2nya dibanding cerita ini. Ternyata ada komplotan bagi hasil seperti itu di bungur.

Dan akhirnya aku naik juga ke bis patas jurusan kediri, seperti biasa. Ga usah kebanyakan ngomong, ga ambil pusing, aku ambil patas ini soalnya pikiran udah suntuk tur buthek, ga pengen ketemu pengamen dan pengemis waktu perjalanan, ga pengen berhenti kecuali udah sampe tujuan. Hii, dan untuk pertama kalinya seumur-umur aku naik bis ketiduran.

The end of the story.

PUASA PERTAMA DI UTP

September 27th, 2006 by dhanysaputra

17092006
Sekitar dua minggu lalu Kiki dan Marten beli Rice Cooker, Multi Cooker, suthil, serok, piring, sendok, garpu, gelas, peniris, tepung, nugget mentah, kentang goreng, sarden, ayam, ikan, sosis, telur, gula, garam, dan bumbu masak lainnya. Wah, jadi nih berbuka dan sahur di kamar saja. Hihihi, masakan pertama yang dibuat Kiki adalah bakso ikan plus bihun. Wih, u r the best chef emang.

23092006002Trus hari H-1 sebelum puasa, siang hari, Kiki, Marten dan BKC masak sop ceker, omelet, kerupuk, sambel trasi, dan sambel pecel … alhamdulillah akhirnya bisa ngerasain masakan indonesia …. Trus hari2 berikutnya sahur dan buka masak sarden, sayur terong, sambel goreng kentang, kolak pisang, ote-ote sosis, pisang goreng, trus ikan asin, ikan plus kacang panjang.

25092006001
Tapi entah kenapa kalo aku yang masak (indomie pake tepung pake telor terus digoreng) kok nggak ada yg mau??!? Tapi alhamdulillah, dengan adanya alat2 masak di dapur dan bumbu2 di kulkas, nggak perlu turun dari lantai 4 ke kantin ali buat beli makan, dan setiap sahur dan buka, selalu ada momen makan bareng di atas tikar, dan bisa masak sendiri. Di sini aku jadi belajar macam mana itu membersihkan dan menanak nasi, memakai margarin.

Trus juga, ada beberapa cerita kecil tentang sholat tarawih di sini. Waktu tarawih pertama, jalanan rame dan macet oleh mobil-mobil dan sepeda motor student yang mau ke masjid utp. Kaya waktu takbiran gitu, banyak banget kendaraan yang macet di belakang takbiran. Tapi seperti biasa, makin hari jumlah sof makin berkurang. Trus juga, sholat di sini (meskipun jauh), tapi ber-AC, meski AC baru aja rusak dan baru berjalan normal sejak tarawih hari ketiga. Jadi tarawih hari pertama dan kedua, yah serasa tarawih biasa. Baju selalu basah waktu pulang karena keringat. Tapi mulai tarawih ketiga, udah nggak keringetan lagi, dan sholatnya lebih dingin kalo di dalem karena AC. Hehehe, dan di sini aku tidak menemui lagi fenomena teriak-teriak antar taraweh. Biasanya setelah salam, para makmum teriak "hoeeeih … hoeeeiih …. sholiiiih" dengan terburu-buru, menjawab teriakan pendamping imam. Di sini lebih sopan, dan sholatnya tidak terburu-buru. Kalu dulu sih sepakat sholat terburu-buru, soalnya suasananya panas banget pengen cepet pulang, tapi kalo sekarang ga papa deh. Dan juga di antara sholat taraweh, ada sedikit perbedaan, yg biasanya jawab "allohumma sholli aliih" diganti menjadi "sholallohu wassalamu ‘alaiih".

3D JOURNEY

September 14th, 2006 by dhanysaputra

Last Monday I just register for the access of some rooms I want in Building 1 (for ICT) and 2 (for BIS). When I have registered, I can enter those rooms with my Matrix ID Card. I’ve just found so many laboratories in Building 1 and Building 2. Multimedia Lab 1, 2, 3, until 6 in Building 2 where I ge in touch as the tutor of ICIS (Introduction of Computer and Information System) until now, Application Lab 1 until 2 where I tutor SAD (System Analysis and Design) in Building 2, some of Advanced Programming Lab and some of Flexible Learning Lab in building 1, Data Communication Lab (very sophisticated and complicated but luxurious networking lab) in building 2, and of course the Postgraduate Lab in Building 2. The postgraduate Lab is very quiet but fulfilled with unquiet people. The one that I notice most, is some room in Level 2 Building 2. There are some rooms related with Virtual Reality.

First I thought VR course is complicated and uninteresting because I’ve never been taught those materials at my undergraduate. But actually when my supervisor give me project for my GA (my eyes turning green :) ) to do the survey of a VR project, I become interested with the room (thanks to Barkah for giving me the information about it). OK, first, there are some room related with VR, they are Virtual Reality Lab 1 (Power Wall), Virtual Reality Lab 2 (Cave), Usability Waiting Room and Usability Control Room.  But the most interesting room is Power Wall, because I can see that there are a lot of fun things for VR.

12092006001First thing is Polarized Glasses to view a 3D screen movie using two projectors. The movie cannot be seen from computer, and at the roll-screen, we will see unclear motion pictures or movies since we use two projectors. But when we use polarized googles, we can feel that the picture is real and so near to us.

12092006002
The second thing is LCD Shutter Glasses, a glasses containing liquid crystal and polarizing filter used to create the illusion of a 3D image. And there are also a video card, which darkens over one eye, and then the other, in synchronization with the refresh rate of the monitor setting. At this time, I just realized that refresh rate is not just important but very important, that is for VR. In sufficient high refresh rate, we will not see any flickering, each eye receives a different image, and the 3D effect is able to be perceived.

12092006003
And then the third one is head-mounted display, or I usually called it Holodeck, because it is supposed to belong to Startrek’s. It is actually a display device that we wears on our head to have video information directly displayed in front of our eyes. In our eyes, there are lenses to make us perceive that the images are from far distance. We will see what we called augmented reality (AR). One more thing is wired glove, a glove-like input device for VR. The sensor is in bending of fingers only. Barkah said that if we are in the situation that we are given a heavy rock virtually, our finger will feel the heaviness of the rock as well. And actually this thing is also developed for Nintendo Power Glove.

Actually, those things are very expensive things. One of them is approximately $10000. So I must be careful when I and Barkah conduct the survey. But actually this experience is one of a great journey in my life.