Kali ini saye menulis bahase indonesia kerana saye rindu berbual bahase indonesie. Di sini kalo tak membual bahase malay, kite pakai bahase inggris. Tak ade yang pakai bahase indonesia apalagi jowo kecuali teman-teman sekamar.
Aku berangkat dari Juanda jam 11.15. Setelah lewat imigrasi indonesia, ternyata aku ga boleh balik ketemu ortu, padahal masih pengin kasih sim card simpati aku. Pastinya di malay nggak kepake lah. Lama banget di pesawat sama Andri. Liat pulau2 di bawah. Dan ternyata laut jawa dan selat madura tuh ada beda warnanya, buthek (tak jernih) dan biru.
Akhirnya tiba di jalur "ketibaan" (bahasa melayu dari arrival. Klo departure jadi "perlepasan") LCC (Sepang) jam 2.50. Tapi aku nggak bisa-bisa masuk soalnya ditahan petugas imigrasi tak boleh masuk ke tempat tunggu pengantar. Tapi untunglah ada Cik Fadil, orang dari petronas, yang sudah menunggu dari seberang imigrasi. Dan ternyata kok si andri sudah lolos. Gara-gara aku juga, akhirnya si andri juga harus ikut menunggu pengurusan penyerahan letter of offer yang ditahan ITS itu oleh Cik Fadil ke Petugas Imigresyen. Bahkan si Kiki Idiothique, yg dari ITB tuh (entah kenapa kasi nickname kok idiothique) hari sebelumnya malahan sampai berurusan di depan bilik tahanan imigresyen. Mbuh yok opo critane. Di sana banyak TKI yang menunggu dan tak bisa masuk. Salah satunya bernama syaiful. Katanya si orang imigrasi, silakan tunggu sampai majikan datang menjemput. Padahal majikannya menunggu di ruang pengantar. Kasian juga orang itu. Apalagi sim card-nya si syaiful yang di indonesia ga bisa dipakai sms di bandara. Setiap ketemu orang selalu mengemis SMS. Aku ngecek sinyal aja langsung didatengi. Kasian banget .. sampek ga tega. Setelah menunggu pengurusan oleh Cik Fadil sampai 1.5 jam-an, lalu makan di McDonald. Di sini nggak ada nasi. Paketnya hanya ada jenis-jenis ayam tapi ga ada paket nasi. Tapi aku beli bubur ayam, lumayan 3 RM. Setelah sekitar 4 jam menunggu, datanglah si Medan itu …. namanya Surya. Ternyata dia anak ITS juga, teknik kimia
Jam setengah delapan malam (tapi matahari baru tenggelam) bis petronas datang, menjemput kita menuju universitas tercinta … universiti teknologi petronas (UTP). Tapi yang aneh tu pengaturan jamnya yang plus satu. Misalkan di surabaya jam 6, di malay jam 7 (selisih 1 jam). Tapi waktu sholat (plus waktu tenggelamnya/terbitnya matahari) selisih 2 jam. Jadi maghrib di sini jam setengah delapan malam. Jalan di sini sepi dan teratur, tidak seperti di surabaya yg penuh sesak dan macet. Di tengah jalan bis berhenti 45 menit di Tapah, sebuah tempat peristirahatan, ada yg sholat, ada yg beli makan. Aku sama andri beli sim card … selak pingin sms wong omah. Akhirnya beli celcom. Oiya, disini ada 3 provider besar, namanya celcom, digi, dan maxis. Kata dicky anak if itb tuh, celcom mirip pro xl, digi mirip mentari, dan maxis mirip telkomsel. Waktu mau beli, katanya awak nak topap? disertai gumaman-gumaman asing ala malaysia. Alah mbuh lah … Ternyata top-up itu istilah dari isi ulang klo di indonesia. Trus karena haus juga, aku beli minuman. Ada macem2 minuman sih, tp aku ga berani macem2, beli ti (teh). Ternyata teh di malay dikasih creamer!! Jadi rasanya ya kayak yg di iklan-iklan itu "ini teh susu". Oya, di bus kami bertiga dari ITS bareng sama orang2 Ethiopia yg juga dapet beasiswa. Tapi orangnya ramaaaah banget. Awalnya udah takut banget gitu liat tampangnya seperti preman. Abi-ne mas bambang ae paling nangis berok-berok ndeloke.
Akhirnya sampai di village (asrama) jam 1 sabtu dini hari (atau entah jam 12, masih bingung dengan GMT). Ternyata kasurnya springbed tapi nggak ada sepreinya, padahal springbednya ada seperti ngompolnya tapi warna coklat. Padahal ini dulunya tempat cewek. Hayooo … itu bekas apa ya? Tapi mau gimana lagi, sudah malam, tidur dah. Aku sekamar sama Andri, si tukang tidur. Katanya sih, dia pengin pulang-pulang jadi gemuk, meskipun hanya perut. Besok paginya jalan-jalan di Jassco, mall kecil di ipoh. Jalan kaki dari village rasanya puuuuanas kaya surabaya. Setelah sejauh kira-kira sakinah ke sipil, kami naik bis, rasanya kaya bis tanpa AC klo di Jawa, tapi nggak ada pengamen. dan sempat ada ibu-ibu usia 50 or 60-an yg jadi kondektur. Suasana bis seperti film-film india lah pokoke (jadi inget bagus … hahaha). Supirnya orang india. Lalu di jassco beli seprei sama top up.
Kamar aku sih rasanya luas dan fresh deh, dibandingin waktu kos di surabaya. Lacinya terlalu banyak, sehingga tidak ada satupun barang yang masih di luar. Kebutuhan baru akhirnya muncul : cantelan baju, hanger untuk menggantung jas, sikat untuk cuci baju (di sini namanya brus, bukan bras), dll.
Trus juga makanan sini nggak cocok. Nasi goreng pake sere, mi goreng sere, sop pake sere, kare sere, sampek indomi kare rasa sere. Tapi mau gimana lagi, ga ada makanan enak disini. Trus ada juga sayur sotong (ikan nus sama wortel, kuahnya seperti cap cay tapi rasa sere). Trus di sini kene minumnya ada air bandung (harganya 80 sen, klo mereka bilang delapan pusing). Ikannya pisang goreng disate, klo ga gitu pastel isi singkong. Uuuaneh pol pokoknya. Tapi akhirnya kemarin udah nemu makanan enak namanya nasi goreng kampung (klo di indonesia mungkin nasi goreng seafood), harganya 2 RM, lumayan, murah.
Di sini tempatnya terpencil pol. Very remote area. Kampus serasa hutan. Masih ada keranya. Berbukit-bukit.
Hari senin sampai jumat ini ada kuliah, sejenis matrikulasi. Kuliahnya jam 8 sampai jam 5, berarti kalau liat jamnya : berangkat satu setengah jam setelah adzan subuh, itupun klo mau datang mepet-mepet. Jadwalnya nih, kuliah jam 8-10, makan jam 10-11, kuliah lagi jam 11-13, makan lagi jam 13-14, kuliah lagi jam 14-15, makan lagi jam 15-16, kuliah terakhir jam 16-17 terus pulang. Gini terus semingguan.
Kuliah pertama ttg filosofi riset, terus dilanjut perencanaan riset. Sorenya bikin kad matriks. Di sini semua orang harus pake kad matriks, klo ga mau kena denda 30 ringgit ketemu makcik guard (eh iya loh, di sini satpamnya ibu-ibu). Kuliah hari kedua tentang komersialisasi riset. Rasanya spt diajar pak holil. Isi kuliahnya spt kuliahnya pak holil, ada IRR, NPV, cost benefit analysis, market, customer, dll. Pokoke ilmunya PPSI dikeluarkan semua dalam 2 jam. Trus hari ini (rabu) ada 2 kuliah yg asyik, yaitu R and D Outlook in Malaysia yg nyeritain ttg R and D di malaysia. Jadi malu sendiri liat peringkat riset di indonesia yg terbawah. Malaysia aja dalam kondisi yg jumlah risetnya sekitar dua kali lebih dari indonesia, merasa sangat kurang. Malaysia selalu mbandingin dg south korea. Kita … aduh, aku malu hari ini jadi orang indonesia.
Kuliah satunya adalah pemodelan dan simulasi. Waduh … diajari matlab mulai dari awal. Ada arena juga. Wis … pokoke kuueren ketimbang jaman pemodsim waktu di SI dulu. Banyak hal yg aku tidak tahu waktu kuliah, di sini aku jadi tahu.
Nanti sekitar tgl 5 ada traveling day ke kuala lumpur. Dan ini dia … dosen-dosen yang ditahan rektorat sampai agustus pasti kasian banget. Selain mereka nggak dapet kuliah yg harusnya mereka dapat, mereka nggak bisa jalan-jalan ke kuala lumpur. Dan juga situasinya bakalan tidak memungkinkan utk yg kuliah agustus.
Dan akhirnya … aku merasakan kos-kosan yang mandinya hanya pakai shower, trus kalo haus tinggal cari water tap terdekat, diminum langsung dari kerannya. Dan akhirnya di dalam blok yg terdiri dari 12 orang indonesia, kami sering mengadakan english area, guna membiasakan bahasa inggris klo nanti ngajar di sini.
Trus juga ketemu sesama postgrad yg dari ethiopia, sudan, libya, nigeria (cuman satu orang, namanya abdul djalil), malay, dan pakistan. Abdul Djalil disukai semua orang karena sifatnya yg ramah kepada semua orang, tapi bahasa inggrisnya susah dimengerti, bahkan orang ethiopia pun merasa asing dg pronounciationnya. Leader aja dibaca lidah. Hahaha … Trus juga ketemu orang libya. Wuhh, dia cerita masalah sunni, syiah, dan kurdi yang ada di daerah jazirah arab. Selain itu dia juga cerita masalah job vacancy bergaji super tinggi di daerah arab. Aku suka pronounciationnya. Mudah dimengerti, meskipun kadang mencampur bahasa arab. Pernah nih suatu hari aku nyatet kuliah di binder, aku nulis prob anal (untuk menyingkat problem analysis), ternyata dilirik sama dia dan dia langsung ambil bolpen aku, dan dia nulis "ysis" di belakang anal dan dia bilang "you should not write like this" sambil tersenyum, lalu aku bales "it’s just to simplify the writing". "but you do not write like this" sambil dia tersenyum lagi. Lak yo isin to aku … setelah kejadian itu aku jadi malu untuk begitu-begitu lagi di sini.
OK, ceritanya lanjut next time, soalnya udah mau pulang.